cinta budaya indonesia
Rabu, 19 Januari 2011
2008 08:05:47
Beberapa ragam bahasa dalam ketoprak menunjukkan watak, kedudukan, trah keturunan, latar belakang dan status sosial tokoh-tokoh yang tampil dalam setiap adegan. Dalam tradisi Jawa, tingkat-tingkat pemakaian bahasa tersebut berkait erat dengan unggah-ungguh, etika, tata krama dan budi pekerti. Artikulasi dialog dalam berbahasa Jawa juga punya arti penting dalam penyajian ketoprak sebagai tontonan, karena pertunjukan ketoprak tanpa didukung artikulasi yang baik akan mengurangi nilai artistik dan estetika, serta menghambat penyampaian makna dialog. Karena itu, selain intonasi dan aksentuasi harus jelas, pemain ketoprak juga harus mampu mengucapkan dialog dengan benar dan lafal yang pas.
PERNYATAAN tersebut dikemukakan oleh pakar sekaligus pemerhati ketoprak Yogyakarta, Handung Kussudyarsana (alm) sekitar tahun 80-an. Unsur bahasa, hanyalah salah satu faktor keadiluhungan kesenian ketoprak. Sebab, unsur busana (kostum) juga mengandung ajaran watak dan kedudukan seseorang.
Sejak kelahirannya, bahasa yang dipakai dalam pementasan ketoprak adalah bahasa Jawa. Sementara itu sistem komunikasi dalam ketoprak dilakukan dengan dialog dan tembang. Namun ragam bahasa yang digunakan dalam ketoprak lesung hanya bahasa ngoko atau krama ndesa, sedangkan dalam perkembangannya ketoprak menggunakan empat ragam bahasa. Yaitu krama inggil, krama ndesa, ngoko, kedhaton, dan bagongan. Hal itu seiring dengan perkembangan lakon-lakon ketoprak yang kemudian juga bersumber dari cerita sejarah dan babad, bukan hanya berasal dari legenda.
Disebutkan pula, perbedaan Ketoprak Mataram dengan Ketoprak Surakarta dan Ketoprak Jawa Timur, antara lain terdapat pada aksentuasi dialog. Aksen dialog ketoprak Surakarta, Jawa Timur dan Pesisiran cenderung pada pola aksen dialog wayang wong, sedangkan Ketoprak Mataram lebih cenderung pada aksen dialog keseharian masyarakatnya.
MASIH segar dalam ingatan kita, bagaimana masyarakat berduyun-duyun menyaksikan pergelaran ketoprak di berbagai daerah, terutama di wilayah pedesaan. Masih kita ingat pula bagaimana banyak remaja putri tergila-gila kepada tokoh bambangan atau penonton yang kedanan kepada pemeran andal seperti Marjiyo, Widayat atau primadona (sripanggung) Marsidah? Atau kita masih merasakan kebencian kepada tokoh antagonis seperti Mukiyar dan Dirjo Tambur? Itu semua terjadi karena ketoprak sebagai teater rakyat pada zaman keemasannya memang benar-benar mampu meyakinkan kepada penontonnya bahwa permainan mereka di panggung bukan sekadar cerita tetapi merupakan kejadian nyata.
Sekarang, apakah pergelaran ketoprak semacam itu masih bisa kita saksikan? Lantas bagaimana nasib Ketoprak Mataram yang sudah identik dengan sebutan kesenian rakyat Yogyakarta? Sarasehan Ketoprak di Griya KR, belum lama ini, yang mengangkat tema Kethoprak Wis Wancine Tangi, seolah menyadarkan kita, bahwa kesenian ini perlu dilestarikan dan dikembangkan.
***
KETOPRAK sebagai kesenian rakyat tradisional, diakui oleh Widayat dalam Ketoprak Orde Baru (FKY 1997), mampu berkembang seiring perkembangan zaman dan teknologi, karena ketoprak memang lentur, luwes dan adaptif. Bahkan ketoprak selalu terbuka terhadap pengaruh konsep seni dari luar ketoprak. Hal itu terlihat jelas dari sejarah perkembangan ketoprak yang terus berkembang, dari ketoprak lesung, ketoprak ongkek, ketoprak pendapan, sampai ketoprak panggung (tobong). Dalam kaitan teknologi komunikasi, ketoprak juga bisa beradaptasi dengan teknologi audio, sehingga mulai 1937/1938, ketoprak sudah mengudara lewat radio (RRI) Yogyakarta, yang dipelopori grup ketoprak Krido Raharjo pimpinan Ki Cokrojiyo. Mulai 1972, ketoprak juga bisa tampil secara audio-visual lewat TVRI.
Hal senada dikemukakan oleh Bondan Nusantara selaku praktisi seni ketoprak. Bahwa ketoprak memiliki keluwesan dan kelenturan menerima berbagai perubahan, termasuk menghilangkan unsur yang sudah tidak sesuai dan menambah unsur yang dianggap sesuai dengan perkembangan sosio-kulturalnya. Karena itu ketoprak mampu bertahan hidup. Hal itu berbeda dengan wayang wong dan ludruk, yang perkembangannya agak tersendat, karena kurang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman lingkungannya.
Pertemuan Seniman ketoprak DIY 1972 menghasilkan rumusan bahwa ketoprak sebagai kesenian (drama/teater) rakyat yang tumbuh subur di wilayah Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur terbagi dalam tiga periodisasi. Yaitu Periode Ketoprak Lesung (1908-1925), Periode Ketoprak Peralihan (1926-1927), dan Periode Ketoprak Gamelan (mulai 1928). Sementara itu Lokakarya Ketoprak yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta (1997) memunculkan gagasan bentuk baru ketoprak, yakni ketoprak garapan. Dengan demikian mulai saat itu dikenal adanya ketoprak konvensional dan ketoprak garapan.
Secara rinci, Bondan menyebutkan bahwa ciri-ciri ketoprak konvensional antara lain tidak menggunakan naskah penuh atau skenario, dramatika lakon mengacu pada wayang kulit purwa, dialog bersifat improvisasi, akting dan bloking hanya intuitif, tata busana dan rias relais, musik pengiringnya gamelan Pelog dan Slendro, menggunakan keprak dan tembang, dan waktu pergelaran sekitar 5-6 jam.
***
SEBAGAI produk budaya, penggunaan bahasa Jawa konon memiliki makna filosofis bagi masyarakatnya. Karena itu, sangat mungkin, di balik sajian ketoprak sebagai teater rakyat, juga terkandung makna filosofis bagi wong Jawa. Muhammad Jazuli dalam Kongres Bahasa Jawa tahun 2001 di Yogyakarta menyebutkan, dalam pandangan komunitas Jawa, bahasa bukan hanya dipandang sebagai alat ekspresi dan komunikasi, tetapi juga menjadi wahana menjelaskan fenomena dan menyiasati alam semesta serta simbol eksistensi orang Jawa dalam hubungannya dengan tatanan makrokosmos dan mikro kosmos. Hubungannya dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri.
”Semuanya itu mengarah pada cita-cita tertinggi orang Jawa, yaitu manunggaling kawula-gusti, yang merefleksikan saling ketergantungan melalui pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi. Karena itu ungkapan atau kata-kata dalam bahasa Jawa sering terkandung nilai-nilai etika, estetika, filsafat, sosio-religi dan pendidikan, yang mengarah pada sikap dan perilaku budi luhur,” tegas Muhammad Jazuli dalam makalahnya, Hegemoni dalam Bahasa Jawa. Etika terlihat pada ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe. Estetika tampak pada konsep alus-kasar, sedangkan nilai-nilai filosofi tampak pada ungkapan amemangun karyenak tyasing sasama (selalu membuat bahagia orang lain). Nilai pendidikan tampak pada ajaran (piwulang) seperti aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa (jangan merasa bisa, tetapi pandai-pandailah merasakan), nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake (menyerang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan), aja adigang adigung adiguna (jangan sombong karena sedang berkuasa atau sedang mempunyai kekuatan materi maupun nonmateri).
***
KEBUDAYAAN Jawa terus mengalami pergeseran. Idiom-idiom yang merupakan ajaran luhur pada saat itu, mungkin sudah berubah, sehingga muncul idiom-idiom atau uangkapan yang merupakan kebalikan ungkapan yang berlaku di masa lalu. Misalnya sepi ing pamrih rame ing gawe, berubah menjadi sepi gawe rame ing pamrih. Becik ketitik ala ketara menjadi becik kesirik ala ketrima, wani ngalah dhuwur wekasane menjadi wani ngalah dhuwur rekasane. ”Setiap kebudayaan senantiasa berubah secara radikal (mendalam, menyeluruh) inkremental (bertahap, pelan-pelan, tambal sulam), evolusif, revolusif, bahkan bisa berubah arah atau berbalik total,” kata Muhammad Jazuli.
Bukankah hal itu sudah diramalkan oleh pujangga besar Ranggawarsita, bahwa suatu saat wong Jawa kari separo? Karena karakteristik budaya Jawa adalah selalu terbuka, maka sangat mungkin budaya tradisional yang berlaku dalam seni tradisi maupun masyarakat Jawa saat ini memang tinggal separoh. Selebihnya sudah terpengaruh budaya asing (Barat). Demikian juga kesenian adiluhung ketoprak, terutama setelah lahir konsep ketoprak garapan, ketoprak humor dan ketoprak plesetan.
Sekarang, akankah nilai-nilai budaya adiluhung yang tinggal separoh itu akan kita biarkan musnah seluruhnya? Semuanya sangat tergantung bagaimana sikap para tokoh dan pelaku ketoprak (khususnya Ketoprak Mataram) di Yogyakarta, serta pemerintah sebagai fasilitator pelestarian dan pengembangan kesenian.
Konon, wilayah sosio-kultural Mataram di Jawa Timur meliputi eks-Karesidenan Madiun dan Kediri (Pacitan, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar dan Madiun). Kalau wilayah sosio-kultural tersebut masih berlaku bagi Ketoprak Mataram, maka sungguh luas wilayah kesenian ketoprak ini. Wah!!!
Beberapa ragam bahasa dalam ketoprak menunjukkan watak, kedudukan, trah keturunan, latar belakang dan status sosial tokoh-tokoh yang tampil dalam setiap adegan. Dalam tradisi Jawa, tingkat-tingkat pemakaian bahasa tersebut berkait erat dengan unggah-ungguh, etika, tata krama dan budi pekerti. Artikulasi dialog dalam berbahasa Jawa juga punya arti penting dalam penyajian ketoprak sebagai tontonan, karena pertunjukan ketoprak tanpa didukung artikulasi yang baik akan mengurangi nilai artistik dan estetika, serta menghambat penyampaian makna dialog. Karena itu, selain intonasi dan aksentuasi harus jelas, pemain ketoprak juga harus mampu mengucapkan dialog dengan benar dan lafal yang pas.
PERNYATAAN tersebut dikemukakan oleh pakar sekaligus pemerhati ketoprak Yogyakarta, Handung Kussudyarsana (alm) sekitar tahun 80-an. Unsur bahasa, hanyalah salah satu faktor keadiluhungan kesenian ketoprak. Sebab, unsur busana (kostum) juga mengandung ajaran watak dan kedudukan seseorang.
Sejak kelahirannya, bahasa yang dipakai dalam pementasan ketoprak adalah bahasa Jawa. Sementara itu sistem komunikasi dalam ketoprak dilakukan dengan dialog dan tembang. Namun ragam bahasa yang digunakan dalam ketoprak lesung hanya bahasa ngoko atau krama ndesa, sedangkan dalam perkembangannya ketoprak menggunakan empat ragam bahasa. Yaitu krama inggil, krama ndesa, ngoko, kedhaton, dan bagongan. Hal itu seiring dengan perkembangan lakon-lakon ketoprak yang kemudian juga bersumber dari cerita sejarah dan babad, bukan hanya berasal dari legenda.
Disebutkan pula, perbedaan Ketoprak Mataram dengan Ketoprak Surakarta dan Ketoprak Jawa Timur, antara lain terdapat pada aksentuasi dialog. Aksen dialog ketoprak Surakarta, Jawa Timur dan Pesisiran cenderung pada pola aksen dialog wayang wong, sedangkan Ketoprak Mataram lebih cenderung pada aksen dialog keseharian masyarakatnya.
MASIH segar dalam ingatan kita, bagaimana masyarakat berduyun-duyun menyaksikan pergelaran ketoprak di berbagai daerah, terutama di wilayah pedesaan. Masih kita ingat pula bagaimana banyak remaja putri tergila-gila kepada tokoh bambangan atau penonton yang kedanan kepada pemeran andal seperti Marjiyo, Widayat atau primadona (sripanggung) Marsidah? Atau kita masih merasakan kebencian kepada tokoh antagonis seperti Mukiyar dan Dirjo Tambur? Itu semua terjadi karena ketoprak sebagai teater rakyat pada zaman keemasannya memang benar-benar mampu meyakinkan kepada penontonnya bahwa permainan mereka di panggung bukan sekadar cerita tetapi merupakan kejadian nyata.
Sekarang, apakah pergelaran ketoprak semacam itu masih bisa kita saksikan? Lantas bagaimana nasib Ketoprak Mataram yang sudah identik dengan sebutan kesenian rakyat Yogyakarta? Sarasehan Ketoprak di Griya KR, belum lama ini, yang mengangkat tema Kethoprak Wis Wancine Tangi, seolah menyadarkan kita, bahwa kesenian ini perlu dilestarikan dan dikembangkan.
***
KETOPRAK sebagai kesenian rakyat tradisional, diakui oleh Widayat dalam Ketoprak Orde Baru (FKY 1997), mampu berkembang seiring perkembangan zaman dan teknologi, karena ketoprak memang lentur, luwes dan adaptif. Bahkan ketoprak selalu terbuka terhadap pengaruh konsep seni dari luar ketoprak. Hal itu terlihat jelas dari sejarah perkembangan ketoprak yang terus berkembang, dari ketoprak lesung, ketoprak ongkek, ketoprak pendapan, sampai ketoprak panggung (tobong). Dalam kaitan teknologi komunikasi, ketoprak juga bisa beradaptasi dengan teknologi audio, sehingga mulai 1937/1938, ketoprak sudah mengudara lewat radio (RRI) Yogyakarta, yang dipelopori grup ketoprak Krido Raharjo pimpinan Ki Cokrojiyo. Mulai 1972, ketoprak juga bisa tampil secara audio-visual lewat TVRI.
Hal senada dikemukakan oleh Bondan Nusantara selaku praktisi seni ketoprak. Bahwa ketoprak memiliki keluwesan dan kelenturan menerima berbagai perubahan, termasuk menghilangkan unsur yang sudah tidak sesuai dan menambah unsur yang dianggap sesuai dengan perkembangan sosio-kulturalnya. Karena itu ketoprak mampu bertahan hidup. Hal itu berbeda dengan wayang wong dan ludruk, yang perkembangannya agak tersendat, karena kurang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman lingkungannya.
Pertemuan Seniman ketoprak DIY 1972 menghasilkan rumusan bahwa ketoprak sebagai kesenian (drama/teater) rakyat yang tumbuh subur di wilayah Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur terbagi dalam tiga periodisasi. Yaitu Periode Ketoprak Lesung (1908-1925), Periode Ketoprak Peralihan (1926-1927), dan Periode Ketoprak Gamelan (mulai 1928). Sementara itu Lokakarya Ketoprak yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta (1997) memunculkan gagasan bentuk baru ketoprak, yakni ketoprak garapan. Dengan demikian mulai saat itu dikenal adanya ketoprak konvensional dan ketoprak garapan.
Secara rinci, Bondan menyebutkan bahwa ciri-ciri ketoprak konvensional antara lain tidak menggunakan naskah penuh atau skenario, dramatika lakon mengacu pada wayang kulit purwa, dialog bersifat improvisasi, akting dan bloking hanya intuitif, tata busana dan rias relais, musik pengiringnya gamelan Pelog dan Slendro, menggunakan keprak dan tembang, dan waktu pergelaran sekitar 5-6 jam.
***
SEBAGAI produk budaya, penggunaan bahasa Jawa konon memiliki makna filosofis bagi masyarakatnya. Karena itu, sangat mungkin, di balik sajian ketoprak sebagai teater rakyat, juga terkandung makna filosofis bagi wong Jawa. Muhammad Jazuli dalam Kongres Bahasa Jawa tahun 2001 di Yogyakarta menyebutkan, dalam pandangan komunitas Jawa, bahasa bukan hanya dipandang sebagai alat ekspresi dan komunikasi, tetapi juga menjadi wahana menjelaskan fenomena dan menyiasati alam semesta serta simbol eksistensi orang Jawa dalam hubungannya dengan tatanan makrokosmos dan mikro kosmos. Hubungannya dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri.
”Semuanya itu mengarah pada cita-cita tertinggi orang Jawa, yaitu manunggaling kawula-gusti, yang merefleksikan saling ketergantungan melalui pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi. Karena itu ungkapan atau kata-kata dalam bahasa Jawa sering terkandung nilai-nilai etika, estetika, filsafat, sosio-religi dan pendidikan, yang mengarah pada sikap dan perilaku budi luhur,” tegas Muhammad Jazuli dalam makalahnya, Hegemoni dalam Bahasa Jawa. Etika terlihat pada ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe. Estetika tampak pada konsep alus-kasar, sedangkan nilai-nilai filosofi tampak pada ungkapan amemangun karyenak tyasing sasama (selalu membuat bahagia orang lain). Nilai pendidikan tampak pada ajaran (piwulang) seperti aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa (jangan merasa bisa, tetapi pandai-pandailah merasakan), nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake (menyerang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan), aja adigang adigung adiguna (jangan sombong karena sedang berkuasa atau sedang mempunyai kekuatan materi maupun nonmateri).
***
KEBUDAYAAN Jawa terus mengalami pergeseran. Idiom-idiom yang merupakan ajaran luhur pada saat itu, mungkin sudah berubah, sehingga muncul idiom-idiom atau uangkapan yang merupakan kebalikan ungkapan yang berlaku di masa lalu. Misalnya sepi ing pamrih rame ing gawe, berubah menjadi sepi gawe rame ing pamrih. Becik ketitik ala ketara menjadi becik kesirik ala ketrima, wani ngalah dhuwur wekasane menjadi wani ngalah dhuwur rekasane. ”Setiap kebudayaan senantiasa berubah secara radikal (mendalam, menyeluruh) inkremental (bertahap, pelan-pelan, tambal sulam), evolusif, revolusif, bahkan bisa berubah arah atau berbalik total,” kata Muhammad Jazuli.
Bukankah hal itu sudah diramalkan oleh pujangga besar Ranggawarsita, bahwa suatu saat wong Jawa kari separo? Karena karakteristik budaya Jawa adalah selalu terbuka, maka sangat mungkin budaya tradisional yang berlaku dalam seni tradisi maupun masyarakat Jawa saat ini memang tinggal separoh. Selebihnya sudah terpengaruh budaya asing (Barat). Demikian juga kesenian adiluhung ketoprak, terutama setelah lahir konsep ketoprak garapan, ketoprak humor dan ketoprak plesetan.
Sekarang, akankah nilai-nilai budaya adiluhung yang tinggal separoh itu akan kita biarkan musnah seluruhnya? Semuanya sangat tergantung bagaimana sikap para tokoh dan pelaku ketoprak (khususnya Ketoprak Mataram) di Yogyakarta, serta pemerintah sebagai fasilitator pelestarian dan pengembangan kesenian.
Konon, wilayah sosio-kultural Mataram di Jawa Timur meliputi eks-Karesidenan Madiun dan Kediri (Pacitan, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar dan Madiun). Kalau wilayah sosio-kultural tersebut masih berlaku bagi Ketoprak Mataram, maka sungguh luas wilayah kesenian ketoprak ini. Wah!!!
Minggu, 16 Januari 2011
Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.
Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Langganan:
Postingan (Atom)

